Peran Psikologi Intelijen Mengasah Insting Alpha Oleh: Dede Farhan Aulawi (Pemerhati Intelijen)

- Kamis, 5 Mei 2022 | 08:28 WIB

 

Bandung, BPKPNEWS.COM--Dinamika perkembangan lingkungan strategis seringkali berubah dengan sangat cepat dan terkadang tidak bisa diprediksi sebelumnya.

Perubahan dinamika ini bisa terjadi di tingkat nasional, regional ataupun internasional, dimana satu sama lain pada akhirnya saling mempengaruhi. Terutama pada variabel – variabel yang dinilai sensitif terhadap suatu kejadian, misalnya variabel ekonomi, variabel politik, dan lain sebagainya.

Dalam konteks inilah peran Intelijen menjadi sangat penting agar bisa menyampaikan informasi yang akurat, tepat, cepat, cermat dan valid kepada pimpinan, sehingga pimpinan bisa mengambil keputusan atau kebijakan yang sesuai dalam merespon dinamika perkembangan situasi yang relevan.

Dalam situasi seperti itu, maka tentu sangat dibutuhkan SDM – SDM Intelijen yang handal dan profesional. Namun semua ini tentu bukan barang jadi, melainkan sebuah rangkaian proses yang harus dilalui sehingga para intelijen memiliki dan memenuhi kualifikasi yang diharapkan.

Secara umum ada 3 rangkaian proses yang akan dilalui yaitu :

  1. Seleksi psikologi terhadap kandidat dalam rangka menemukan calon yang memiliki kesiapan mental, kecerdasan, keterampilan olah pikir, kondisi psikologi dan fisik yang prima.
  2. Pembinaan mental psikologi yang berkesinambungan ketika sudah menjadi anggota, terutama saat akan mengikuti pendidikan lanjutan di bidang intelijen atau saat akan menjalankan tugas dalam operasi – operasi khusus.
  3. Pembinaan mental psikologis jika gagal dalam pelaksanaan tugas, ataupun saat memasuki masa purna tugas. Semua rangkaian tes psikologi ini pada hakikatnya bertujuan untuk mengetahui kesiapan mental dan kejiwaan personil.

Coba perhatikan sejarah, biografi dan kepemimpinan Presiden Rusia Vladimir Putin dimana saat ini sedang menjadi perhatian dunia karena keberaniannya dalam menentang hegemoni barat, AS dan sekutu NATO-nya yang dimanifestasikan dalam invasi Rusia terhadap Ukraina.

Vladimir Putin dikenal juga sebagai salah satu pemimpin yang suka memainkan psikologi lawannya, dimana Ia kerap datang telat ketika akan bertemu dengan para kepala negara lain, tetapi selalu tepat waktu saat konferensi pers atau wawancara. Ia bawa anjing saat bertemu Angela Merkel karena tahu pemimpin Jerman itu takut pada anjing. Tak heran, jika mantan agen intelijen Komitet Gosudarstvennoy Bezopasnosti (KGB) ini disebut tipe kepemimpinan Alpha, dengan visi besarnya terkait kejayaan masa lalu Uni Soviet.

Jika dilihat dari perspektif kajian psikologi kepemimpinan disebut Alpha Instinct, yaitu kecenderungan seseorang untuk menjadi pemimpin yang dominan dan cenderung agresif untuk mendapatkan rasa hormat, didengarkan, atau diikuti oleh orang lain. Putin juga dikenal piawai dalam memainkan psikologi lawan, misalnya saat bertemu dengan Angela Merkel dan utusan Jepang ia membawa anjing.

Halaman:

Editor: Asep Jubaeni Hamzah

Terkini

X