• Sabtu, 29 Januari 2022

Partai Politik, Belajar Berdemokrasi Ke NU

- Sabtu, 25 Desember 2021 | 00:04 WIB
Iustrasi Logo Nahdlatul Ulama (NU) (Realitarakyat.com)
Iustrasi Logo Nahdlatul Ulama (NU) (Realitarakyat.com)

BPKP NEWS.COM

Ada momen mengharukan di penghujung mukmatar NU ke-34 yang dihelat di Lampung. Tidak lama setelah perhitungan suara pemilihan rampung, ketua umum terpilih (KH Yahya Cholil Staquf)berpelukan dengan KH Said Aqil yang berstatus pesaing inkumben dalam pemilihan tersebut. Bahkan Gus Yahya terlebih dahulu mencium tangan KH Said Aqil di hapadan para wartawan dan hadirin peserta mukmatar.

Ketika menyaksikan momen mengharukan tersebut melalui Kompas TV, ada kebanggaan dalam hati bahwa kedewasaan berdemokrasi masih bisa ditunjukkan secara nyata di negeri ini. Tapi sejurus kemudian, muncul pertanyaan dalam hati mengapa partai-partai politik di Indonesia yang sering mendaku sebagai pilar demokrasi justru sering gagal menunjukkan kedewasaan seperti itu.

Dari berbagai media kita tahu bahwa proses pemilihan ketua umum NU kali ini tidak kalah "panas" dan menegangkan dari pemilihan ketua partai politik. Tetapi melihat kedewasaan para kontestan menerima hasil pemilihan, kita yakin bahwa persaingan beraroma panas tersebut hanyalah bagian dari dinamika demokrasi. Tak lama setelah pembacaan hasil pemilihan, KH Said Aqil sendiri mengakui hal tersebut.

Baca Juga: Ulum: Partai Gelora Indonesia Lebih Moderat


Dalam pernyataan perdana setelah memastikan kalah dalam pemilihan tersebut sebagaimana disiarkan kanal Youtube TV NU, KH Said Aqil mengatakan: "Saya bersyukur kepada Allah bahwa mukmatar telah berjalan dengan baik, aman, tentram. Walaupun katanya sebelumnya kira-kira agak panas, tetapi ternyata selesai dengan damai, nyaman dan ketawa".

Kata-kata menyejukkan dari KH Said Aqil tersebut membenarkan keyakinan banyak orang selama ini bahwa di NU semua gegeran segera akan berubah menjadi guyonan. Selanjutnya mantan ketua NU selama dua periode tersebut mengajak semua Nahdliyin bersatu membesarkan NU. "Apa yang terjadi kemarin mari kita lupakan. Mari bersama-sama bergandengan tangan membesarkan Nahdlatul Ulama" ajak KH Said Aqil.

Ketua umum terpilih dalam pidato perdananya juga menyinggung situasi gegeran yang segera berubah menjadi guyonan tersebut. "Orang dari luar bisa mungkin merasa kahwatir melihat panasnya suasana. Tetapi para pelaku di dalamnya justru keasyikan. Merasak asyik dengan pergulatan yang dilakukan"  kata ketua umum baru yang akrab disapa Gus Yahya tersebut sebagaiman disiarkan Youtube TV NU.

Baca Juga: Inilah Gejala Umum dan Penyebabnya Penyakit Sepsis

Halaman:

Editor: Ahmad Tarmizi, SE

Tags

Terkini

PKS : Edy Mulyadi Bukan lagi Menjadi kader PKS

Senin, 24 Januari 2022 | 10:58 WIB

Sisi Lain Megawati diungkap Guntur Soekarnoputra

Senin, 24 Januari 2022 | 10:11 WIB

Wakil Ketua MPR : Tak Setuju Apabila MPR dibubarkan

Kamis, 20 Januari 2022 | 14:23 WIB

Sekber Deklarasi Dukung Jokowi-Prabowo di Pilres 2024

Sabtu, 15 Januari 2022 | 18:02 WIB

YANG SEXY DAN URGENSI

Senin, 27 Desember 2021 | 02:29 WIB

Partai Politik, Belajar Berdemokrasi Ke NU

Sabtu, 25 Desember 2021 | 00:04 WIB

Nyanyian Fals Giring Ketika Kehilangan Kata Bermakna

Jumat, 24 Desember 2021 | 22:59 WIB
X