Partai Politik, Belajar Berdemokrasi Ke NU

- Sabtu, 25 Desember 2021 | 00:04 WIB
Iustrasi Logo Nahdlatul Ulama (NU) (Realitarakyat.com)
Iustrasi Logo Nahdlatul Ulama (NU) (Realitarakyat.com)

Sekalipun NU sangat kental dengan suasana kekeluargaan sebagaimana tergambar dalam komentar dua kontestan tersebut, NU justru lebih mampu menunjukkan diri sebagai organisasi modern yang dijalankan secara demokratis. Keterpilihan Gus Yahya menjadi ketua umum baru menunjukkan bahwa di NU regenerasi kepemimpinan berjalan dengan baik. Ini adalah poin penting dalam demokrasi yang mandek dalam beberapa partai politik di Indonesia.

Kalau sebagian partai cederung menunjukkan kontestasi  berujung dengan keterbelahan akibat kurangnya kedewasaan dalam berdemokrasi, partai lain justru tidak pernah mengalami konstestasi sama sekali. Maka demokrasi kepemimpinan hanya pemanis belaka karena kepemimpinan sudah menjadi hak prerogatif segelintir elit puncak partai.

Di beberapa partai pemilihan ketua umum hanya formalitas belaka. Hasilnya sudah bisa ditebak jauh-jauh hari. Meminjam bahasa gaul kaum milenial, hasilnya tidak pernah meleset dari DL Kuadrat: Dia lagi, Dia Lagi. Karena itu, kaum milenial suka membuat anekdot tentang betapa tidak canggihnya metode quick count sekarang ini karena hanya bisa memprediksi pemenang beberapa jam setelah pemilihan.

Baca Juga: Kepala BNN RI Berikan Penghargaan kepada Forkompimda Bandung atas Capaian Penguatan dan Implementasi P4GNPN

"Di partai politik lebih canggih, satu bulan sebelum pemilihan ketua umum sudah diketahui siapa pemenangnya" guyon salah seorang milenial di media sosial pada musim Pilkada lalu.

Anekdot sederhana tersebut hanyalah upaya mengimbangi kegemaran kaum Nadliyin berguyon dalam suasana kekeluargaan tanpa mengurangi pesan utama dari artikel ini: Ucapan selamat mengemban amanah kepada KH Yahya Cholil Staquf. Semoga beliau bisa memimpin NU untuk terus menjadi teladan berdemokrasi di negeri ini, termasuk bagi partai-partai politik yang sering mendaku sebagai pilar demokrasi.

Dikutip dari Kompasiana.com

 

Kreator: Mario Manalu

 

Halaman:

Editor: Ahmad Tarmizi, SE

Tags

Terkini

Surya Paloh : Nasdem Menolak Penundaan Pemilu 2024

Senin, 28 Februari 2022 | 23:53 WIB

PP Muhammadiyah Kritik Rencana Pemilu 2024 ditunda

Senin, 28 Februari 2022 | 23:46 WIB

PKS : Edy Mulyadi Bukan lagi Menjadi kader PKS

Senin, 24 Januari 2022 | 10:58 WIB

Sisi Lain Megawati diungkap Guntur Soekarnoputra

Senin, 24 Januari 2022 | 10:11 WIB

Wakil Ketua MPR : Tak Setuju Apabila MPR dibubarkan

Kamis, 20 Januari 2022 | 14:23 WIB
X