• Selasa, 29 November 2022

Sidang Perdana Kasus Pembunuhan Letkol Inf (Purn) H. Muhhammad Mubbin di PN Bale Bandung Kecewakan Pihak Korba

- Rabu, 23 November 2022 | 16:44 WIB

 

Kab. Bandung, BPKPNEWS.COM--Sidang perdana untuk Henry Hernando bin Ir. Sutikno alias Aseng, dengan No. Perkara : 893/Pid.b/2022/PN.BIb., yang digelar tepat pukul 10.00 WIB itu, menghasilkan kekecewaan di pihak keluarga korban. Pasalnya, entah atas dasar apa, pelaku Henry Hernando bin Ir. Sutikno alias Aseng itu tidak dihadirkan, dan hanya ditampilkan di layar televisi, layaknya masa Covid-19 kemarin.

Keluarga korban dan masyarakat yang peduli, serta beberapa organisasi yang empati dan hadir pun merasa kecewa, karena pelaku tidak dihadirkan. Bahkan ada sebagian pengunjung yang menyela; "Kasus bintang dua saja dihadirkan, kenapa Aseng yang membunuh TNI Purnawirawan, malah nonton TV?" katanya.

Tetapi demi berjalannya sidang, hal itu diabaikan pula. Dan sesuai agenda di awal, pada sidang perdana ini adalah pembacaan dakwaan yang dibacakan oleh Tim JPU dari Kejaksaan Bale Bandung, yang diketuai oleh Romlah, SH., MH.

Baca Juga: Personil Lanud Sugiri Sukani Gelar Shalat Gaib, Tahlil Dan Doa Bersama Bagi Korban Gempa Bumi Di Cianjur Jabar

Dalam pembacaan dakwaan tersebut, dimana terdakwa melakukan pembunuhan, bahkan cenderung tidak berperikemanusiaan melakukan penusukan brutal lebih dari 10 kali dan menghasilkan luka yang mematikan dari awal. Akan tetapi, penerapan pasal yang dibacakan yang menyebabkan kekecewaan di pihak keluarga korban dan rekan sejawat seperjuangan yang mereka anggap, bahwa penggunaan Pasal 351 tidak layak diterapkan oleh JPU, karena terlalu lemah dalam kasus pembunuhan sadis tersebut.

Melalui awak media, Kuasa Hukum dari keluarga korban, Muchtar Effendi, SH., & Partner yang didampingi oleh Dr. Anton Minardi, SH., mengatakan; "Saya sangat kecewa. Sidang ini adalah sidang perdana dari kasus pembunuhan Letkol Inf (Purn) H. Muhammad Mubbin, bahkan lebih tepat disebut sebagai pembantaian. Karena kalau pembunuhan hanya 1 atau 2 tusukan lantas mati tidak berulang, lah ini kalau dilihat dalam slow motion CCTV bisa sampai 18 kali. Dan pasal yang diterapkan adalah pasal alternatif, yaitu Pasal 351-3 walau ada Pasal 338 Subsider dan 340 Primer. Dan saya sangat merasa kecewa sebagai Tim Kuasa Hukum. Karena dari awal saya bekerja, sudah meminta agar Pasal 351 ini dianulir dan lebih memperhatikan Pasal 340, karena ini adalah pembantaian, dan bukan lagi pembunuhan. Hal ini saya sampaikan ke Polda dan melalui rekan yang bekerja sama dengan pihak Kejaksaan, dan disampaikan melalui Kejaksaaan agar Pasal 351 dianulir. Akan tetapi faktanya, pasal ini malah dibacakan. Jadi, dimana Kuasa Hukum memohon agar dihukum seberat-beratnya menjadi tidak berfungsi dan terkesan landai," ujarnya heran.

"Atas dasar hal tersebut, saya akan komplain kepada pihak penyelenggara persidangan," imbuh Muchtar.

Halaman:

Editor: Ahmad Tarmizi, SE

Tags

Terkini

X