• Minggu, 2 Oktober 2022

Mendagri : Kasus Kerangkeng Manusia di Langkat Masuk dalam KUHAP merampas kemerdekaan orang

- Jumat, 28 Januari 2022 | 10:06 WIB
Mendagri, Tito Karnavian (foto : Istimewa)
Mendagri, Tito Karnavian (foto : Istimewa)

Bali | BPKPNEWS.COM

 

Kasus Kerangkeng Bupati Langkat Terang-benderang masuk dalam KUHAP merampas kemerdekaan orang dan Apapat penegak hukum bisa memproses hukum.

Hal tersebut disampaikan oleh Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian yang menyebut aparat penegak hukum bisa memproses hukum kasus kerangkeng manusia di langkat Terbit Rencana Perangin-angin dengan pasal perampasan kemerdekaan.

"Sekarang tinggal di proses, dari segi hukum kalau itu ada pelanggaran hukum maka kita serahkan kepada penegak hukum. Misalnya, perampasan kemerdekaan, itu ada pasalnya di KUHAP merampas kemerdekaan orang, itu bisa," kata Tito saat konferensi pers di Nusa Dua, Kabupaten Badung, Bali, Kamis (27/1) sore.

Baca Juga: Inspektur Jenderal Kementerian Hukum Dan Ham Berikan Sertifikat KIK Pada Wabup Rahmang

Tito mengatakan bahwa apa yang dilakukan oleh Bupati Langkat itu tidak boleh dilakukan jika ditilik dari etika administratif kepala daerah.

Ada pelanggaran, tetapi Kemendagri tidak akan mengusut lantaran aparat penegak hukum sudah turun tangan. Tito mempercayakan kepada aparat yang sejauh ini sudah memproses hukum.

"Kita tunggu sampai pengadilan terbukti atau tidak. Kalau terbukti otomatis akan diberikan sanksi ditahan dan diberhentikan," ujar Tito.

Sebelumnya, ditemukan kerangkeng manusia di rumah Bupati Langkat Terbit Rencana Perangin-angin. Mulai terungkap ketika KPK dan pihak lain melakukan penggeledahan terkait kasus korupsi yang dilakukan Terbit.

Baca Juga: Ratusan Anggota LSM GMBI Diamankan Polda Jawa Barat, Inilah Penyebabnya

Kapolda Sumatera Utara Irjen Panca Putra Simanjuntak menyebut kerangkeng digunakan oleh Terbit sebagai tempat rehabilitasi para pecandu narkoba. Itu sudah berlangsung selama 10 tahun dan tanpa izin.

Terpisah, Kepala Biro Penerangan Polri Brigjen Ahmad Ramadhan mengatakan 48 orang yang menghuni kerangkeng di rumah Bupati Langkat itu juga dipekerjakan sebagai buruh pabrik kelapa sawit, namun tak dibayar.

"Sebagian dipekerjakan di pabrik kelapa sawit milik Bupati Langkat. Mereka tidak diberi upah seperti pekerja," kata Ramadhan kepada wartawan, Selasa (25/1)


(CNN/AZ)

Editor: Asep Jubaeni Hamzah

Tags

Terkini

MA Prihatin Dengan Tertangkapnya Hakim Agung Oleh KPK

Sabtu, 24 September 2022 | 00:02 WIB

Tiga Partai Politik Jajaki Koalisi Usung Capres 2024

Senin, 19 September 2022 | 00:50 WIB
X