• Senin, 5 Desember 2022

Diduga di PT GGP Banyak Yang Terlibat Penipuan dan Penggelapan Atas Penjualan Fasum Fasos Perumahan

- Minggu, 6 November 2022 | 14:24 WIB
Diduga di PT GGP Banyak Yang Terlibat Penipuan dan Penggelapan Atas Penjualan Fasum Fasos Perumahan
Diduga di PT GGP Banyak Yang Terlibat Penipuan dan Penggelapan Atas Penjualan Fasum Fasos Perumahan

KBB | BPKPNEWS.COM

-Dalam pemberitaan yang sebelumnya telah dimuat di media reformasitotal.com dengan judul, “Tak Main-Main, Ini Tanggapan Serius Dari Kuasa PT. Graha Gita Pertiwi Terkait Dilaporkannya PT. RR Propertindo Ke Polres Cimahi” tertanggal 3 November 2022.

Melihat isi dari Kebenaran berita tersebut, rupanya dibantah oleh Direktur Utama PT. Megah Agung Properti (MAP) Erfan Bramantyo Hendro Cahyono. Dikatakan Erfan, bahwa Kuasa Hukum PT. Graha Gita Pertiwi (GGP), Helmi Wibowo mengeluarkan pernyataan tanpa bukti kuat, tandas Erfan kepada Media.

“Helmi mengenal Adji Soesmoro selaku pimpinan PT. Graha Gita Pertiwi (GGP), itu baru. Dan perlu dipahami, awalnya PT. GGP adalah konseptor pertama atau developer pertama dari perumahan Katumiri pada tahun 1985 sampai dengan tahun 2000, karena terkena imbas krisis moneter dulu, ada berita dia bangkrut secara finansial, sehingga mengadakan kerjasama dengan PT. Puteraco Indah,” terang Erfan, Jum’at (4/11/2022).

Baca Juga: 7 Bantahan Mahfud MD atas Sederet Dalih Bos MNC Group Hary Tanoe Soedibjo Soal ASO

Secara internal, lanjut Erfan, ada informasi, jika PT. Puteraco Indah melakukan kerjasama dengan pembagian 60 : 40 dari sisa kapling diperumahan Katumiri yang “Berlandaskan Surat Hak Guna Bangun (SHGB) No. 1 Tahun 1988 kurang lebih seluas 12, 7 hektar, yang masa berlakunya berakhir sampai dengan tanggal 4 November 2008. Yang menurutnya itu adalah asas mereka, sehingga mereka masih merasa memiliki lahan di Katumiri,” imbuhnya. Padahal fakta sebenarnya, saya selaku pengurus paguyuban warga Katumiri mewakili kepentingan seluruh warga Katumiri merasa ada yang janggal atas perbuatan mereka “Karena ada satu kejadian yang faktanya pihak PT. GGP melalui kuasa hukumnya Asep dan Helmi menjual lahan fasum / Fasos ke saudara Hamzah yang menjadi korban, dengan nilai kerugian uang sebesar Rp.412 Juta”.

Diduga di PT GGP Banyak Yang Terlibat Penipuan dan Penggelapan Atas Penjualan Fasum Fasos Perumahan, Diantaranya bukti yang dimiliki EB


“Yang dijualbelikan itu adalah lahan Fasum Fasos yang diperuntukkan untuk Bale berdasarkan Peta Map yang diberikan berdasarkan berita acara serah terima sarana dan prasarana perumahan Katumiri dari PT. Puteraco Indah kepada warga. Yang dijual itu adalah lokasi Bale, halaman maupun musholla untuk warga Katumiri, oleh karena itu saya laporkan ke pihak Polres Cimahi bagian Resum, nomornya lengkap, insyaallah naik sidik sebentar lagi,” paparnya.

Berdasarkan bukti-bukti yang dimiliki oleh Erfan Bramantyo Hendro Cahyono yang diperlihatkan kepada wartawan, sebagai bahan laporannya ke Polres Cimahi, salah satunya adalah Bukti Transaksi/ Transferan sebanyak Rp 412 Juta.

Baca Juga: Ikutin Yuk! Lomba Photography Wisata Katumiri Grand Hill dan Menangin Hadiahnya

“Yang Rp 150 Juta nya langsung ke saudara Helmi, yang langsung diberikan katanya ke pak Adji Soesmoro, yang kedua sebesar sekian, kekurangan dua ratus sekian puluh juta sekian itu ke rekening saudara Adji Soesmoro. Total kerugian Rp 412 Juta diluar biaya operasional lain-lainnya, yang Hamzah sendiri sebagai korban masih tertipu juga, dari total Rp 412 Juta ditambah biaya-biaya lain, yang itu juga masih tertipu,” bebernya.

Diduga di PT GGP Banyak Yang Terlibat Penipuan dan Penggelapan Atas Penjualan Fasum Fasos Perumahan, Diantaranya bukti yang dimiliki EB


Dikatakan juga oleh Erfan, singkat cerita saya selaku warga juga keberatan. “Akhirnya saya mencari bukti”.

Diantaranya bukti yang dimiliki antar lain;
1. Berita acara serah terima Prasarana, Sarana dan Utilitas Umum perumahan Katumiri dari PT Puteraco Indah kepada warga perumahan Katumiri Cihanjuang.

Baca Juga: Festival KUKM Kota Cimahi Tahun 2022

“Ini yang dijual, yang hijau-hijau ini Fasum Fasos, termasuk ada dugaan baru-baru kemarin, mereka dengan faktanya mencoba memagari juga yang depan pos satpam dengan dasar SHGB fotocopy No. 1 Tahun 1988, yang tidak valid menurut kita, karena sudah berakhir kan masa berlakunya bulan November tahun 2008. Dia menggunakan fotocopy tersebut untuk menguasai lahan Fasum Fasos yang ada, dipikirnya Fasum Fasos belum ada serah terima menurut dia, namanya orang beli rumah Fasum Fasos itu satu paket untuk konsumen, ini yang dia coba utak-atik, intinya sudah banyak hutang, apa yang bisa dijual, dijual, itu otaknya Adji Soesmoro dan kawan-kawan ini, diwakili oleh kuasanya si Helmi, ngaku-ngaku orang hukum, padahal tidak mengerti hukum, karena dia menjual dan menggelapkan Fasum Fasos yang telah diberikan, yang dikuasai oleh pihak PT Puteraco Indah waktu dia serah terima kan, Puteraco menyerahkan sudah benar ke warga Katumiri yang ditandatangani oleh Kades Gagan dan Kades Deni,” ucapnya.

Disamping itu Erfan juga memperlihatkan kepada wartawan sejumlah bukti serah terima dari PT Puteraco Indah kepada warga. “Nanti dari warga ada berita acara serah terima ke PT MAP, karena dia merasa sudah beban sejak tahun 2011, dari PT Puteraco bangkrut sampai dengan tahun 2020 tidak ada yang mengurus”.

Diduga di PT GGP Banyak Yang Terlibat Penipuan dan Penggelapan Atas Penjualan Fasum Fasos Perumahan, Diantaranya bukti yang dimiliki EB


“Saya selaku developer ketiga diberikan kuasa untuk mengelola, dengan kewajiban saya memberikan aspal untuk memperbaiki jalan umum, taman dan lain-lain nanti pada saat proyek ini berakhir,” tuturnya.

Baca Juga: Sebanyak 150 Pelaku Usaha di Kabupaten Pohuwato mendapat Bqantuan UMKM dari Pemda Pohuwato

2. SHGB No. 1 Tahun 1988.
“Terkait SHGB No. 1 tahun 1988 yang dimiliki oleh PT. GGP dulu, yang dijadikan alas jualbeli oleh Helmi dan Adji Soesmoro kepada korban Hamzah. Yang menjual belikan Fasum Fasos Katumiri pertama, yang diatasnya ada Bale dan untuk bangunan musholla,” ujarnya.

Erfan mengaku, sebelumnya meminta keterangan kepada Badan Pertanahan Nasional (BPN) dan telah diberikan surat jawaban dengan nomor surat PHP.100/486-32.17/Vll/2022 yang ditandatangani langsung oleh Kepala BPN KBB.

“Karena apa, dia sudah habis, dari 12 sekian hektar, hampir 70 persen mungkin membuat kapling, yang sudah habis buat konsumen. Sisanya 30 persen untuk jalan kan, taman, makanya dia ngegeragas tidak berani ke kavling, karena sudah habis ke konsumen, sudah dibalik namakan ke konsumen oleh Puteraco, sisanya taman-taman yang mungkin dianggap masih atasnama dia, tidak ada yang mau membalik namakan, Fasum Fasos, jalan, tapi ingat itu sudah diberikan ke warga yang dia jual ini,” terangnya. Selanjutnya, Erfan mengungkapkan, dia fikir dengan menjual dan mempunyai uang, dia bisa bermain dengan BPN KBB.

Baca Juga: Bupati Pohuwato, Saipul A. Mbuinga Berikan Penghargaan kepada 6 Kepala Desa Atas Pengabdiannya

“Saya tau perwakilannya saudara Ayub (pegawai BPN di Unit Sangketa) yang dia pakai, makanya saya bilang ke Kakan tolong panggil saudara Ayub, dengan dasar apa dia mau mempecahkan, oleh Kakan di cut, karena tidak mempunyai dasar, sebab sudah habis SHGB tersebut,” katanya.

Halaman:

Editor: Ahmad Tarmizi, SE

Tags

Artikel Terkait

Terkini

IKPP Salurkan Bantuan Untuk Alumni

Rabu, 30 November 2022 | 22:01 WIB

FKDM Tingkat Kota Cimahi Tahun 2022

Rabu, 16 November 2022 | 05:55 WIB

Pemkot Cimahi Sosialisasi Gempur Rokok Ilegal

Jumat, 11 November 2022 | 10:58 WIB
X